Tidak ada rahasia sukses.
Sukses adalah untuk semua orang.
Sejak lahir, anda sudah sukses. Sukses 1 sperma menjadi janin,
Sukses janin menjadi Anda sekarang.
Anda lahir miskin, itu bukan salah Anda. Anda mati miskin, itu salah Anda.
Hidup Anda menjadi lebih baik, hanya jika Anda berusaha menjadi lebih baik.
Tidak ada sukses tanpa pengorbanan, sukses diperoleh dalam ukuran senti -
bukan kilometer ...
Lakukan semua sebaik yang anda bisa,
Dengan sepenuh hati yang anda bisa,
Dalam segala cara yang anda bisa,
Di segala tempat yang anda bisa,
Pada setiap waktu yang anda bisa
Kepada semua orang yang anda bisa,
Selama mungkin yang anda bisa,
Dan insyaAllah anda akan bisa.
PONDOK PESANTREN
Senin, 28 September 2009
Sabtu, 26 September 2009
Andakah Pemimpin Berprinsip?
Orang berwatak baik melakukan sesuatu yang benar hanya karena itu benar
Orang besar menunjukkan kebesarannya dalam caranya memperlakukan orang kecil
(Thomas Carlyle)
Orang besar menunjukkan kebesarannya dalam caranya memperlakukan orang kecil
(Thomas Carlyle)
Stephen R. Covey, penulis buku terkenal, ‘Seven Habits of Highly EffectivePeople’, dalam bukunya yang lain ‘Principle Centered Leadership’, menggambarkan delapan ciri-ciri pemimpin yang berprinsip, sebagai berikut :
Terus belajar
Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka juga membesar. Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin tahu, meningkatkan ketrampilan dan minat baru.
Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka juga membesar. Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin tahu, meningkatkan ketrampilan dan minat baru.
Berorientasi pada pelayanan
Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karir. Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan melayani orang lain. Inti kepemimpinan yang berprinsip adalah kesediaan untuk memikul beban orang lain. Pemimpin yang tak mau memikul beban Orang lain akan menemui kegagalan. Tak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, pemimpin harus mau menerima tanggung jawab moral, pelayanan, dan sumbangsih.
Memancarkan energi positif
Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan mempercayai. Mereka memancarkan energi positif yang akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Dengan energi itu mereka selalu tampil sebagai juru damai, penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energi destruktif menjadi positif.
Mempercayai orang lain
Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara Berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.
Hidup seimbang
Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau menolak sama sekali. Meraka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakan. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak. Sebagai gambaran, mereka tidak gila kerja, tidak fanatik, tidak menjadi budak rencana-rencana. Dengan demikian mereka jujur pada diri sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal yang sejalan berdampingan dengan kegagalan.
Melihat hidup sebagai sebuah petualangan
Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak mudah dipengaruhi namun fleksibel dalam menghadapi hampir semua hal. Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang berkelimpahan.
Sinergistik
Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu, mereka selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif. Dalam bekerja mereka menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya memberi dan menerima sedikit.
Berlatih untuk memperbarui diri
Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri secara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula. Sekarang.. yakinkah anda sudah dapat menjadi pemimpin bagi diri sendiri sebelum memimpin orang lain..? Semoga resep di atas dapat pula selalu mengingatkan kita, memperbaharui pola pikir yang positif..
Sumber: Disadur dari ‘Principle Centered Leadership’ by Stephen R. Covey
PESAN UMAR BIN KHATAB
Dalam sepucuk surat yang dikirimkannya kepada Abu Musa al-Asy'ari, Khalifah Umar bin Khatab r.a, menulis sebagai berikut :
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Dari Abdullah (hamba Allah), Umar bin Khathtab Amirul Mukminin kepada Abdullah bin Qais :
Salaamullah 'alaik ….
Amma ba'du "Sesungguhnya peradilan itu adalah kewajiban yang sangat ditekankan dan sunnah yang harus di-ikuti. Maka curahkanlah segenap daya pikir untuk memahami berbagai masalah bila tugas peradilan diamanatkan kepada anda, karena sesungguhnya tidaklah bermanfaat membicarakan kebenaran tanpa realisasi.
Sejajarkan hak semua orang dihadapanmu, di dalam peradilan dan tempat persidanganmu, sehingga orang yang kaya dan mempunyai kelebihan tidak berkeinginan untuk mengincar apa yang menjadi kesenanganmu, sementara yang lemah tidak akan merasa putus asa dengan keadilanmu.
Bukti atas suatu tuduhan wajib ditunjukkan oleh pihak penuduh, sementara sumpah itu wajib diberikan oleh pihak yang menolak tuduhan tersebut.
Perdamaian dikalangan umat Islam itu dibolehkan selama perdamaian itu tidak menghalalkan perkara yang haram atau mengharamkan yang halal.
Tidak ada salahnya anda mengkaji ulang secara rasio serta mempertimbangkannya berdasarkan pengetahuan anda terhadap keputusan yang telah anda putuskan pada hari ini untuk mencapai suatu kebenaran. ; Karena sesungguhnya kebenaran itu sudah ada sejak dahulu, sementara kembali kepada kebenaran adalah lebih baik daripada berkepanjangan dalam suatu kesalahan.
Pahamilah segala apa yang tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw serta segala yang meragukan hatimu !
Ketahuilah akan hal-hal serupa dan sepadan, lalu dalam kondisi seperti ini, kiaskan dengan hal-hal yang sepadan. Dan laksanakanlah apa yang paling mendekatkan kepada Allah dan mendekati kebenaran.
Berikan tenggang waktu yang cukup bagi orang yang mengaku punya hak atau bukti, dimana pada saat dilaksanakannya peradilan hak atau bukti tersebut belum dapat ditunjukkan sampai ia sanggup memberikannya. Bila ia mampu memberikan bukti, maka berikanlah hak itu kepadanya, akan tetapi, bila ia tidak bisa memberikan bukti, maka dengan demikian anda boleh melakukan keputusan hukum.
Cara demikian bertujuan untuk menghindar dari keraguan dan berusaha memberi keterangan kepada orang-orang yang tidak mengerti."
Dalam suatu peristiwa lain, Khalifah Umar bin Khatab r.a, berbicara dihadapan masyarakat Islam yang isinya :
"Wahai umat manusia, sesungguhnya aku tidak mengutus para gubernur kepada kalian untuk memukul dan mengambil harta kekayaan kalian. Akan tetapi aku mengutus mereka adalah untuk mengajarkan kepada kalian agama dan sunnah Nabi Saw.
Barangsiapa diantara kalian diperlakukan dengan perlakuan yang menyimpang dari tugas mereka sebenarnya, maka silahkan melaporkannya kepadaku. Demi dzat yang diri Umar ada ditangan-Nya, sungguh aku akan meng-qishas-nya (membalas dengan hukuman yang sama) !"
Amr bin Ash kemudian mengajukan pertanyaan :
"Wahai Amirul Mukminin, bagaimana pendapat tuan jika ada seorang pemimpin dari umat Islam yang melakukan pelanggaran terhadap rakyat, sementara ia telah berjasa membina rakyat, lalu apakah tuan juga akan meng-qishas-nya ?"
Khalifah Umar menjawab : "Demi dzat yang diri Umar ada ditangan-Nya, sungguh ia tetap akan ku qishas, lalu bagaimana aku tidak meng-qishas-nya, sedangkan pernah kulihat Rasulullah Saw melakukan qishas terhadap diri beliau sendiri ?
Perlu kalian ketahui, janganlah kalian memukul orang Islam yang dengan demikian kalian telah melakukan pelecehan terhadap mereka. Dan janganlah kalian memuji mereka, karena dengan pujian kalian itu, berarti telah mencelakakan mereka, dan janganlah menghalang-halangi hak mereka yang berakibat akan ditentang oleh mereka; dan janganlah menempatkan mereka ditempat yang tidak layak, karena yang demikian itu berarti telah menyia-nyiakan mereka." (Ibnu al-Atsir, al-Kaamil fii at-Taarikh)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah dan Abu Yusuf dari Sa'id bin Musayyab, bahwa Ma'iz datang kepada Khalifah Umar dan melapor bahwa ia telah melakukan perbuatan keji.
"Apakah engkau sudah memberitahukan kepada seseorang sebelum engkau memberitahukannya kepada ku ?" tanya Khalifah Umar kepada Ma'iz.
"Belum." jawa Ma'iz.
"Maka tutupilah dengan tutup Allah, dan bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya manusia itu hanya bisa mencemooh, sementara mereka tidak bisa mengubah. Sedangkan bila Allah adalah dzat yang bisa mengubah, sementara Dia tidak mencemooh, maka bertobatlah kepada Allah dan jangan engkau beritahukan kepada seorangpun." demikian nasehat Umar bin Khatab.
Abdul Hakim meriwayatkan dalam Futuhu Mishra (Sejarah penaklukan Mesir), dari Abu asy-Syaikh dan Ibnu Asakir dari Qais bin Hajjaj, dari orang yang menceritakannya:
"Ketika Amr bin Ash menaklukkan Mesir, maka para penduduk pun berdatangan kepadanya disaat mereka memasuki bulan Bu'unah dan mengadu kepadanya :
'Wahai gubernur, sesungguhnya sungai Nil kami ini mempunyai suatu tradisi yang airnya tidak akan mengalir kecuali kalau kita melakukan tradisi tersebut.'
Amr bin Ash bertanya : 'Tradisi apakah itu ?'; mereka menjawab : 'Kalau sudah lewat tanggal 12 bulan ini, kami akan mengambil seorang anak gadis dari kedua orangtuanya, kami bujuk lalu ia akan kami hiasi dengan pakaian dan perhiasan yang menawan sampai akhirnya kami lemparkan kesungai Nil.'
Amr bin Ash lalu berkata kepada mereka : 'Sesungguhnya tradisi ini tidak ada didalam Islam. Islam menghapus segala tradisi para leluhur sebelumnya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.'
Lalu mereka bersabar menunggu selama 3 bulan berturut-turut (mulai bulan Bu'unah, Abib dan Masra -kalender non Arab yang berlaku di Mesir kala itu) tanpa menjatuhkan seorang korbanpun, tapi tidak sedikitpun air sungai Nil mengalir seperti yang diharapkan sehingga mereka berniat untuk pindah.
Ketika Amr bin Ash mengetahui peristiwa ini, ia segera berkirim surat kepada Khalifah Umar dikota Madinah yang isinya menceritakan peristiwa tersebut. Maka Khalifah Umar bin Khatab memberikan balasan surat yang isinya sebagai berikut :
"Engkau benar, sesungguhnya Islam menghilangkan segala tradisi para leluhur.
Bersama surat ini, kukirimkan pula kepadamu beberapa lembar kertas, dan bila surat ini telah sampai kepadamu, maka lemparkanlah lembaran kertas itu kesungai Nil !"
Setelah surat dari Khalifah Umar ini diterimanya, lalu Amr bin Ash membuka lembaran kertas yang dimaksud, ternyata didalamnya terdapat tulisan :
"Dari hamba Allah Umar, Amirul Mukminin, kepada sungai Nil penduduk Mesir.,
Amma Ba'du.
Jika engkau mengalir semata-mata karena dirimu sendiri, maka janganlah mengalir! Namun jika yang mengalirkanmu adalah Dzat yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, maka kami memohon kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa untuk mengalirkanmu. !"
Sehari sebelum hari salib (salah satu hari berdasarkan kalender Mesir saat itu), Amr bin Ash lalu melemparkan kertas dari Khalifah Umar ini kesungai Nil, sementara penduduk Mesir mulai berkemas untuk pindah kedaerah lain, sebab kesejahteraan mereka di Mesir ketika itu sangat bergantung pada sungai tersebut.
Maka pada pagi hari, tepatnya pada hari salib, Allah Swt telah mengalirkan air sungai Nil sampai sedalam 16 hasta. Dengan demikian, terhapuslah tradisi buruk itu dari penduduk Mesir."
Demikianlah sedikit untaian riwayat salah seorang sahabat utama Rasullah Saw yang bernama Umar bin Khatab r.a, yang nama besar dan keagungan jiwanya tidak pernah terlepas dari sejarah peradaban Islam sepanjang masa, semoga ada hikmah yang bisa kita ambil didalamnya dan tentu saja akan menambah khasanah pengetahuan kita bersama.
Diambil dari buku:
"Fatwa dan Ijtihad Umar bin Khatab" Ensiklopedia berbagai persoalan Fiqih
(Fatawa wa Aqdhiyah Amiril Mukminin Umar ibn al-Khathtab) Karya Muhammad Abdul Aziz al-Halawi Maktabah al-Qur'an, Bulaq - Kairo 1986 diterjemahkan oleh Wasmukan dan Ust. Zubeir Suryadi Abdullah, Lc Terbitan Risalah Gusti 1999
Dari buku "Mutiara Nahjul Balaghah" yang diberi Syarah oleh Syaikh Muhammad Abduh, terbitan Mizan 1999 dan diterjemahkan oleh Muhammad al-Baqir, Ali bin Abu Thalib Karramallahu wajhah telah berkata pada hari wafatnya Khalifah Umar bin Khatab r.a, :
"Alangkah bahagianya! Dia telah meluruskan yang bengkok, mengobati sumber penyakit, menghindar dari masa kekacauan dan menegakkan sunnah. Ia pergi dalam keadaan bersih; jarang bercela; meraih kebaikan dunia dan selamat dari keburukannya.
Memenuhi ketaatan kepada Tuhannya dan mencegah diri dari kemurkaan-Nya.
Ia berangkat meninggalkan umat pada saat mereka berada dijalan-jalan yang saling bersimpangan tak menentu arahnya, sedemikian sehingga yang tersesat sulit memperoleh petunjuk, yang sadar pun tidak mampu meyakinkan diri."
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Dari Abdullah (hamba Allah), Umar bin Khathtab Amirul Mukminin kepada Abdullah bin Qais :
Salaamullah 'alaik ….
Amma ba'du "Sesungguhnya peradilan itu adalah kewajiban yang sangat ditekankan dan sunnah yang harus di-ikuti. Maka curahkanlah segenap daya pikir untuk memahami berbagai masalah bila tugas peradilan diamanatkan kepada anda, karena sesungguhnya tidaklah bermanfaat membicarakan kebenaran tanpa realisasi.
Sejajarkan hak semua orang dihadapanmu, di dalam peradilan dan tempat persidanganmu, sehingga orang yang kaya dan mempunyai kelebihan tidak berkeinginan untuk mengincar apa yang menjadi kesenanganmu, sementara yang lemah tidak akan merasa putus asa dengan keadilanmu.
Bukti atas suatu tuduhan wajib ditunjukkan oleh pihak penuduh, sementara sumpah itu wajib diberikan oleh pihak yang menolak tuduhan tersebut.
Perdamaian dikalangan umat Islam itu dibolehkan selama perdamaian itu tidak menghalalkan perkara yang haram atau mengharamkan yang halal.
Tidak ada salahnya anda mengkaji ulang secara rasio serta mempertimbangkannya berdasarkan pengetahuan anda terhadap keputusan yang telah anda putuskan pada hari ini untuk mencapai suatu kebenaran. ; Karena sesungguhnya kebenaran itu sudah ada sejak dahulu, sementara kembali kepada kebenaran adalah lebih baik daripada berkepanjangan dalam suatu kesalahan.
Pahamilah segala apa yang tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw serta segala yang meragukan hatimu !
Ketahuilah akan hal-hal serupa dan sepadan, lalu dalam kondisi seperti ini, kiaskan dengan hal-hal yang sepadan. Dan laksanakanlah apa yang paling mendekatkan kepada Allah dan mendekati kebenaran.
Berikan tenggang waktu yang cukup bagi orang yang mengaku punya hak atau bukti, dimana pada saat dilaksanakannya peradilan hak atau bukti tersebut belum dapat ditunjukkan sampai ia sanggup memberikannya. Bila ia mampu memberikan bukti, maka berikanlah hak itu kepadanya, akan tetapi, bila ia tidak bisa memberikan bukti, maka dengan demikian anda boleh melakukan keputusan hukum.
Cara demikian bertujuan untuk menghindar dari keraguan dan berusaha memberi keterangan kepada orang-orang yang tidak mengerti."
Dalam suatu peristiwa lain, Khalifah Umar bin Khatab r.a, berbicara dihadapan masyarakat Islam yang isinya :
"Wahai umat manusia, sesungguhnya aku tidak mengutus para gubernur kepada kalian untuk memukul dan mengambil harta kekayaan kalian. Akan tetapi aku mengutus mereka adalah untuk mengajarkan kepada kalian agama dan sunnah Nabi Saw.
Barangsiapa diantara kalian diperlakukan dengan perlakuan yang menyimpang dari tugas mereka sebenarnya, maka silahkan melaporkannya kepadaku. Demi dzat yang diri Umar ada ditangan-Nya, sungguh aku akan meng-qishas-nya (membalas dengan hukuman yang sama) !"
Amr bin Ash kemudian mengajukan pertanyaan :
"Wahai Amirul Mukminin, bagaimana pendapat tuan jika ada seorang pemimpin dari umat Islam yang melakukan pelanggaran terhadap rakyat, sementara ia telah berjasa membina rakyat, lalu apakah tuan juga akan meng-qishas-nya ?"
Khalifah Umar menjawab : "Demi dzat yang diri Umar ada ditangan-Nya, sungguh ia tetap akan ku qishas, lalu bagaimana aku tidak meng-qishas-nya, sedangkan pernah kulihat Rasulullah Saw melakukan qishas terhadap diri beliau sendiri ?
Perlu kalian ketahui, janganlah kalian memukul orang Islam yang dengan demikian kalian telah melakukan pelecehan terhadap mereka. Dan janganlah kalian memuji mereka, karena dengan pujian kalian itu, berarti telah mencelakakan mereka, dan janganlah menghalang-halangi hak mereka yang berakibat akan ditentang oleh mereka; dan janganlah menempatkan mereka ditempat yang tidak layak, karena yang demikian itu berarti telah menyia-nyiakan mereka." (Ibnu al-Atsir, al-Kaamil fii at-Taarikh)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah dan Abu Yusuf dari Sa'id bin Musayyab, bahwa Ma'iz datang kepada Khalifah Umar dan melapor bahwa ia telah melakukan perbuatan keji.
"Apakah engkau sudah memberitahukan kepada seseorang sebelum engkau memberitahukannya kepada ku ?" tanya Khalifah Umar kepada Ma'iz.
"Belum." jawa Ma'iz.
"Maka tutupilah dengan tutup Allah, dan bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya manusia itu hanya bisa mencemooh, sementara mereka tidak bisa mengubah. Sedangkan bila Allah adalah dzat yang bisa mengubah, sementara Dia tidak mencemooh, maka bertobatlah kepada Allah dan jangan engkau beritahukan kepada seorangpun." demikian nasehat Umar bin Khatab.
Abdul Hakim meriwayatkan dalam Futuhu Mishra (Sejarah penaklukan Mesir), dari Abu asy-Syaikh dan Ibnu Asakir dari Qais bin Hajjaj, dari orang yang menceritakannya:
"Ketika Amr bin Ash menaklukkan Mesir, maka para penduduk pun berdatangan kepadanya disaat mereka memasuki bulan Bu'unah dan mengadu kepadanya :
'Wahai gubernur, sesungguhnya sungai Nil kami ini mempunyai suatu tradisi yang airnya tidak akan mengalir kecuali kalau kita melakukan tradisi tersebut.'
Amr bin Ash bertanya : 'Tradisi apakah itu ?'; mereka menjawab : 'Kalau sudah lewat tanggal 12 bulan ini, kami akan mengambil seorang anak gadis dari kedua orangtuanya, kami bujuk lalu ia akan kami hiasi dengan pakaian dan perhiasan yang menawan sampai akhirnya kami lemparkan kesungai Nil.'
Amr bin Ash lalu berkata kepada mereka : 'Sesungguhnya tradisi ini tidak ada didalam Islam. Islam menghapus segala tradisi para leluhur sebelumnya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.'
Lalu mereka bersabar menunggu selama 3 bulan berturut-turut (mulai bulan Bu'unah, Abib dan Masra -kalender non Arab yang berlaku di Mesir kala itu) tanpa menjatuhkan seorang korbanpun, tapi tidak sedikitpun air sungai Nil mengalir seperti yang diharapkan sehingga mereka berniat untuk pindah.
Ketika Amr bin Ash mengetahui peristiwa ini, ia segera berkirim surat kepada Khalifah Umar dikota Madinah yang isinya menceritakan peristiwa tersebut. Maka Khalifah Umar bin Khatab memberikan balasan surat yang isinya sebagai berikut :
"Engkau benar, sesungguhnya Islam menghilangkan segala tradisi para leluhur.
Bersama surat ini, kukirimkan pula kepadamu beberapa lembar kertas, dan bila surat ini telah sampai kepadamu, maka lemparkanlah lembaran kertas itu kesungai Nil !"
Setelah surat dari Khalifah Umar ini diterimanya, lalu Amr bin Ash membuka lembaran kertas yang dimaksud, ternyata didalamnya terdapat tulisan :
"Dari hamba Allah Umar, Amirul Mukminin, kepada sungai Nil penduduk Mesir.,
Amma Ba'du.
Jika engkau mengalir semata-mata karena dirimu sendiri, maka janganlah mengalir! Namun jika yang mengalirkanmu adalah Dzat yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, maka kami memohon kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa untuk mengalirkanmu. !"
Sehari sebelum hari salib (salah satu hari berdasarkan kalender Mesir saat itu), Amr bin Ash lalu melemparkan kertas dari Khalifah Umar ini kesungai Nil, sementara penduduk Mesir mulai berkemas untuk pindah kedaerah lain, sebab kesejahteraan mereka di Mesir ketika itu sangat bergantung pada sungai tersebut.
Maka pada pagi hari, tepatnya pada hari salib, Allah Swt telah mengalirkan air sungai Nil sampai sedalam 16 hasta. Dengan demikian, terhapuslah tradisi buruk itu dari penduduk Mesir."
Demikianlah sedikit untaian riwayat salah seorang sahabat utama Rasullah Saw yang bernama Umar bin Khatab r.a, yang nama besar dan keagungan jiwanya tidak pernah terlepas dari sejarah peradaban Islam sepanjang masa, semoga ada hikmah yang bisa kita ambil didalamnya dan tentu saja akan menambah khasanah pengetahuan kita bersama.
Diambil dari buku:
"Fatwa dan Ijtihad Umar bin Khatab" Ensiklopedia berbagai persoalan Fiqih
(Fatawa wa Aqdhiyah Amiril Mukminin Umar ibn al-Khathtab) Karya Muhammad Abdul Aziz al-Halawi Maktabah al-Qur'an, Bulaq - Kairo 1986 diterjemahkan oleh Wasmukan dan Ust. Zubeir Suryadi Abdullah, Lc Terbitan Risalah Gusti 1999
Dari buku "Mutiara Nahjul Balaghah" yang diberi Syarah oleh Syaikh Muhammad Abduh, terbitan Mizan 1999 dan diterjemahkan oleh Muhammad al-Baqir, Ali bin Abu Thalib Karramallahu wajhah telah berkata pada hari wafatnya Khalifah Umar bin Khatab r.a, :
"Alangkah bahagianya! Dia telah meluruskan yang bengkok, mengobati sumber penyakit, menghindar dari masa kekacauan dan menegakkan sunnah. Ia pergi dalam keadaan bersih; jarang bercela; meraih kebaikan dunia dan selamat dari keburukannya.
Memenuhi ketaatan kepada Tuhannya dan mencegah diri dari kemurkaan-Nya.
Ia berangkat meninggalkan umat pada saat mereka berada dijalan-jalan yang saling bersimpangan tak menentu arahnya, sedemikian sehingga yang tersesat sulit memperoleh petunjuk, yang sadar pun tidak mampu meyakinkan diri."
Jumat, 25 September 2009
Masing-Masing Namun Tidak Semua Menyadari
Dan Mampu Memaksimalkannya!
Langganan:
Postingan (Atom)